SUB KULTUR TANAMAN DALAM KULTUR JARINGAN
Written by Pelatihan Friday, 18 September 2009 08:34
SUB KULTUR TANAMAN DALAM KULTUR JARINGAN
Sub kultur merupakan salah satu tahap dalam perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan. Pada dasarnya sub kultur kita memotong, membelah dan menanam kembali eksplan yang telah tumbuh sehingga jumlah tanaman akan bertambah banyak.
Kapan waktunya melakukan sub kultur? Itu tergantung beberapa hal, misalnya eksplan yang ada dalam botol sudah tumbuh setinggi botol, atau eksplan tersebut sudah berada lama di dalam botol sehingga pertumbuhannya sudah mulai berkurang. Biasanya sudah mulai kekurangan hara. Pada media dalam botol sendiri kelihatan mulai menipis, berwarna kecoklatan atau hitam sebagai hasil reaksi pertumbuhan tanaman, bekas bagian tanaman yang mati dan lain-lain. Bisa saja tanaman baru 4-6 minggu di dalam botl namun pertumbuhannya sudah setinggi botol maka segera dilakukan subkultur. Bisa juga tanaman belum setinggi botol namun sudah berada lebih dari 4 bulan sehingga perlu disubkultur. Tanaman yang perlu cepat disubkultur misalnya jenis pisang-pisangan, alokasia, caladium. Yang relatif agak lama seperti aglaonema.
Sebenarnya sub kultur merupakan tahap kegiatan yang relatif mudah. Kita tidak perlu melakukan sterlisasi karena dilakukan pada tanaman yang sudah steril dalam botol. Jadi tidak perlu fungisida, bakterisida, cairan pemutih dan bahan-bahan sterlisasi yang lain (lihat Go Green edisi sebelumny). Yang perlu disiapkan adalah alat-alat standar seperti pisau, pinset dan petri dish yang steril dan media tumbuh baru (botolan).
Cara kerjanya pertama kita buka tutup botol berisi eksplan, kemudian kita keluarkan tanaman di dalamnya dengan menjepitnya menggunakan pinset. Selanjutnya tanaman/eksplan diletakkan di atas petri dish. Tahap selanjutnya pegang pinset di tangan kiri, pisau ditangan kanan. Jepit eksplan dengan pinset lalu potong eksplan sesuai dengan yang diinginkan.
Eksplan dipotong atau dibelah sesuai dengan jenis tanaman yang di subkultur. Pada tanaman pisang misalnya, bagian atas tanaman mini di potong kira-kira 2cm diatas bonggol. Bagian ini dibuang karena tidak akan tumbuh lagi bila ditanam. Pada pisang bagian atas batang sebenarnya adalah batang semu yang merupakan pelepah pisang yang saling melingkupi. Jadi tidak ada titik tumbuh disana. Nah, selanjutnya bagian bonggol dibelah dua secara vertikal. Kemudian masing-masing bagian ditanam di botol terpisah. Masing-masing belahan akan tumbuh menjadi tanaman sendiri dan akan mengeluarkan beberapa anakan.
Pada tanaman alokasia, hampir sama dipotong bagian atasnya namun batangnya bisa ditanam kembali. Bagian bawah berupa bonggol atau umbi juga bisa ditanam kembali. Jika ukuran umbi cukup besar maka bisa dibelah menjadi dua bagian dan masing-masing bagian ditanam kembali.
Pada tanaman yang diperbanyak dengan multifikasi tunas maka sub kultur bisa dilakukan dengan memotong tanaman perruas tanaman yang ada. Satu tanaman mini jati setinggi botol bisa memiliki ruas 3-4 ruas sehingga bisa dipotong menjadi empat bagian. Jika jarak antarr ruas terlalu pendek maka pemotongan bisa dilakukan tiap dua ruas. Jika ada plantlet (tanaman mini) yang masih sangat kecil sehingga rentan bila dipotong maka cukup dipisahkan dari indukannya dan ditanam kembali terpisah.
Dengan mengetahui berapa rata-rata eksplan baru bisa didapat dari sebuah plantlet maka kita bisa menghitung atau memperkirakan jumlah tanaman yang bisa dihasilkan dalam waktu tertentu. Hal ini dikenal dengan kecepatan mutltifikasi. Pada pisang misalnya kecepatan multifikasi nya adalah 4 setiap 2 bulan. Artinya satu ekplan akan menjadi 4-5 tanaman dalam 2 bulan. Dua bulan berikutnya berikutnya menjadi 4 x 4 = 16 tanaman. Demikian 2 bulan selanjutnya menjadi 16 x 4 = 64 tanaman dan seterusnya
Untuk mengetahui seberapa cepat kecepatan multifikasi didapat melalui hasil pengamatan terhadap objek tanaman yang kita kultur. Bisa juga melalui hasil penelusuran pustaka atau informasi dari jurnal, internet dan komunikasi personal dengan orang-orang yang berkecimpung dalam bidang kultur jaringan.
Dengan mengetahui kecepatan multifikasi maka kita bisa memperkirakan jumlah eksplan awal yang harus kita miliki untuk mendapatkan sejumlah tanaman hasil kultur dalam tenggang waktu yang ditentukan. Pada perbanyakan tanaman untuk keperluan proyek yang memerlukan belasan bahkan puluhan ribu maka eksplan awal yang diperlukan juga perlu banyak.
Misalnya jika ada order 10 ribu bibit pisang dalam waktu 8 bulan. Jika diasumsikan 2 bulan untuk transplanting tanaman di polibag. Maka kita punya waktu selama 6 bulan untuk perbanyakan dengan kecepatan multifikasi 5 tanaman per 2 bulan maka kita bisa melakukan 6 ;2 = 3 kali subkultur. Maka eksplan awal yang perlu disiapkan adalah 10 rb: 5 : 5 : 5 = 80 eksplan. Jadi untuk memproduksi 10 ribu bibit pisang dalam waktu 8 bulan kita memerlukan 80 bibit pisang sebagai sumber eksplan. Perhitungan sederhananya demikian. Jika kita diberi waktu 10 bulan berarti ada 4 kali subkultur dengan kelipatan 5 maka kita bisa menghasilkan sekitar 50 ribu bibit dengan asal eksplan dari 80 pohon.
Jika kita menggunakan perbanyakan konvensional melalui anakan maka dalam rentang waktu 10 bulan sangat sulit untuk mendapatkan 50 rb tanaman. Belum lagi anakan hasil alam akan bervariasi dalam hal tinggi dan besar tanaman. Ini akan berpengaruh terhadap umur panen yang tidak seragam dan juga kualitas yang tidak seragam karena bibit sangat bervariasi. Dengan bibit hasil kultur jaringan hal di atas bisa diminimalisir sehingga punya peluang untuk mendapatkan hasil yang optimum.
Satu hal yang perlu diperhatikan dalam memilih saat sub kultur adalah jangan sampai telat menentukan saat subkultur yang paling tepat. Jika sub kultur telat dilakukan atau usia eksplan sudah tua dalam botol maka hasilnya tidak begitu bagus. Pada pisang hias anakan yang dihasilkan lebih sedikit. Kalau terlalu cepat juga akan membuang media. Yang penting kita lihat indikatornya seperti tinggi tanaman, luas permukaan media yang sudah tertutupi dengan eksplan, juga warna eksplan, warna media. Pada kalus jika mulai berwarna kekuningan berarti tanda segera perlu diremajakan di media baru. Hal-hal seperti ini biasanya ditentukan oleh pengalaman peneliti. Makin banyak mempelajai sub kultur bermacam-macam tanaman makapengetahuannya akan semakin banyak.

































